Jika berganti halaman baru tunggu sekitar 10 detik sampai muncul iklan, kemudian klik "SKIP AD" di kanan

Senin, 04 Juni 2012

Memahami Asal Usul Nasrani

Matius, siapa yang tidak mengenal orang yang diduga salah satu murid Yesus. Matius sebagai orang yang mengaku sebagai murid Yesus berulang kali melakukan upaya agar Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama ada hubungan serius. Yang dilakukan Matius adalah menggambarkan Yesus sebagai “Pemenuhan akan Nubuatan” sebagai harapan bagi bangsa Yahudi. Tetapi apa yang dilakukan Matius ternyata menimbulkan kecurigaan yang besar, dimana Matius menuliskan nubuatan tentang Yesus yang terbukti salah. Di sinilah terletak kesalahan tersebut.
 
Mat. 2:23 Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.

Perhatikanlah ayat tersebut diatas. Dikatakan bahwa Ia (Yesus) akan disebut “Orang Nazaret”. Yang menarik adalah bahwa tak satupun ayat di Perjanjian Lama mengatakan hal ini. Tak ada nubuatan di Perjanjian Lama bahwa akan ada orang yang dipanggil sebagai “Orang Nazaret”.

Menurut Arkeologi, kota Nazareth tidak ada pada jaman yesus, kota ini muncul sekitar abad 3 M. Hal ini mengindikasikan bahwa ayat yang menyinggung mengenai “Kota Nazareth” merupakan catatan kemudian (jauh setelah Yesus Wafat). Kemungkinan nama ini diambil dari nama sekte Nazarenes yang tinggal di daerah tersebut. Apa nama daerah yang ditempati oleh sekte Nazarenes masih belum jelas.

Di ayat diatas dikatakan “Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia (Yesus) akan disebut “Orang Nazaret”. Nah jika para nabi di Perjanjian Lama tidak mengatakan apapun soal “Orang Nazaret” bukankah berarti ini suatu nubuatan Palsu. Alias Matius berusaha membohongi orang-orang Yahudi.

Kisah Para Rasul 24:5 Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani.

Di ayat diatas dikatakan sebagai “bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani.”. Tentu kita tahu bahwa tokoh yang dimaksud adalah Yesus. Yesus orang Nazaret.

Yang menjadi bahan kajian selanjutnya adalah siapa itu “Orang Nazaret”?. Kisah awal mula mereka bisa dibaca dalam Kisah Para Rasul 1:13-16. Mereka adalah murid-murid Yesus, Maria, Ibu Yesus serta saudara-saudara Yesus. Banyak yang mengidentikkan “Orang Nazaret” sebagai Nazarenes. Mereka ini pada prinsipnya merupakan sekte yang berbeda dengan Yahudi pada umumnya tetapi termasuk kaum Yahudi. Dan bahasa yang mereka gunakan adalah Aramaic, bahasa yang digunakan Yesus. 

Menurut Josephus, ada 4 sekte dalam masyarakat Yahudi pada permulaan Masehi yaitu : Farisi, Saduki, Essene dan Zealot. Pengikut awal Yesus menamakan diri mereka Nazarenes (Nashara/Nasrani), yang mungkin termasuk Ebionite di dalamnya. Antara Nazarenes dan Ebionite terkadang agak membingungkan. Apakah Ebionite merupakan sempalan dari Nazarenes?. Yang jelas keduanya sangat erat hubungannya meski banyak perdebatan yang mewarnainya.

Asal kata Ebionite dari kata Yahudi ’Evyonim” berarti “yang tertindas/miskin”, sedangkan Nazarene berarti “Cabang”. Makna Nazarenes kemungkinan bentuk terbaik dan terluas dari sebuah pergerakan (Jasmani), sedangan Ebionite lebih mengacu ke bentuk : Jalan, kependetaan,dll (ruhani). Jika dipahami kemungkinan Nazarenes adalah sebutan bagi Pergerakan Politik kaum Ebionite.

Nazarene/Ebionite didirikan oleh orang-orang Israel pengikut Yohanes Pembaptis di daerah Palestina. Kemudian kepemimpinan dilanjutkan oleh Yesus, lalu dipimpin oleh “James si adil” yang merupakan saudara tertua Yesus. Tahun 62 M, James dibunuh oleh pendeta tinggi Ananus. Kemudian Simeon (sodara kedua Yesus) menggantikan James. Tahun 106 M, Kaisar Trajan menyalib Simeon. Kepemimpinan dilanjutkan oleh Judas saudara Yesus. Disini tampak bahwa kepemimpinan di dalam mereka bersifat kedinastian (Dinasty Yesus).

Kata Eessene kemungkinan berasal dari kata “Ossim” yang berarti “Pelaku Taurat”. Essene-lah yang mengumpulkan atau menulis “Dead Sea Scroll”. Mereka hidup menyebar di kota-kota Palestina dan Syria dan di padang gurun. Sekte Essene menggunakan bahasa Aramaic, yaitu bahasa yang digunakan Yesus. Pada masa Yesus ada 3 kelompok Essene yang berbeda :
  • Theraputae Mesir; tempat dimana anak yatim Yesus dan keluarganya melarikan diri selama pemerintahan Herodes.
  • Essenes Qumran (Dead Sea Scrolls), Biarawan dimana Yohanes Pembaptis ada didalamnya.
  • Nazarenes Gunung Carmel, Sebuah desa tempat keluarga yang kooperatif, tempat Yesus mengajar dan hidup
Di catatan dalam “Dead Sea Scroll” itulah ternyata didapatkan keterangan bahwa sebenarnya Yesus itu seorang manusia biasa yang diberi mukjizat. Bukti bahwa Yesus adalah seorang manusia biasa karena beliau dalam catatan “Dead Sea Scroll” dikatakan menikah dengan Maria Magdalena.

Essene memiliki interprestasi sendiri atas Taurat dan sangat bertentangan dengan beberapa kelompok, diantaranya dengan para pendeta korup di Yerusalem, dengan Herodes, bahkan dengan kaum Farisi yang dianggap melakukan kompromi dengan kepercayaan Helenistik atau kekuatan Romawi. Pergolakan antar sekte untuk berebut pengaruh lah salah satu alasan Yesus dibunuh.  
 
LUKAS 11 : 45-57
Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu.Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat.Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.” 

Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa-apa,dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.”Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu,dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. 

Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya. Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: “Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?”Sementara itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi telah memberikan perintah supaya setiap orang yang tahu di mana Dia berada memberitahukannya, agar mereka dapat menangkap Dia.

Jadi pembunuhan Yesus bukanlah keinginan Allah, tetapi merupakan rencana dari para Imam-Imam tetua Yahudi yang tidak ingin posisinya tergeser karena adanya pengajaran Yesus.
 
Pergerakan Yahudi dibawah kepemimpinan Yesus menggunakan dasar-dasar dari Essene yang mana Yesus sebagai Guru bagi mereka. Dan dari Essene inilah kemungkinan menjadi dua cabang yaitu Nazarenes dan Ebionite.
 
Pada awal Kristen, kaum Nazarenes begitu antusias menyebarkan ajaran Yesus kepada orang-orang Yahudi, diantaranya dengan memberikan pemahaman bahwa Yesus adalah nubuatan (Mesiah) bagi kaum Yahudi.

Tetapi setelah Paulus memasukkan Non-Yahudi (Gentile) kedalam Kristen pertentangan mulai terjadi. Kaum Nazarenes ingin agar Non-Yahudi disunat untuk keselamatan. Tetapi Paulus tidak setuju. Kemudian diadakan sidang di Yerusalem tetapi akhirnya dimenangkan oleh Paulus. Bahwa orang non-Yahudi tidak harus di sunat tetapi tetap mengikuti hukum Musa (Kisah Para Rasul 15:1-29)

Pada awal kekristenan, kaum Nazarenes masih memiliki kedudukan yang tinggi, karena lebih mengenal Yesus. Tetapi karena kegiatan Paulus sangat tinggi dalam menyebarkan Kristen ke golongan Non-Yahudi, lambat laun golongan Nazarenes mulai kehilangan pengaruh. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengeksklusifkan diri dan mengasingkan diri dari penganut Kristen baru yang merupakan Non-Yahudi. Apalagi setelah tahun 66 M timbul pemberontakan Yahudi terhadap Romawi di Palestina. Kaum Nazarenes terdampar di daerah Pella (timur sungai Yordan). Pengaruh Nazarenes makin hilang dalam Kekristenan. Dan Nazarenes tidak menganggap Paulus sebagai Rasul. Apalagi setelah Paulus membatalkan beberapa hukum Taurat (Galatia 2:16),(Galatia 3:24-25),(Galatia 5:4),(Roma 3:27-28) dan (Efesus 2:15),dll.

Banyak kaum terpelajar menduga bahwa sebagian Nazarenes sekarang lebih dikenal sebagai Ebionite. Mereka mengakui Yesus sebagai Mesiah tetapi Yesus adalah manusia normal, mengakui hukum Yahudi, mempunyai Kitab tersendiri dan menolak Paulus. Karena alasan ini pada abad ke-4 Uskup Epifanius menganggap aliran ini sebagai Bid’ah. 

Tahun 380 M, Saint Jerome pernah mengabarkan mereka terkonsentrasi di Gurun Syria. Setelah abad ke-4 kelompok ini seakan menjadi asing dan terkucilkan dari dunia kekristenan bahkan diduga punah. Tetapi ada sebuah legenda bahwa ada Nazarenes yang didirikan oleh murid  Yesus yaitu Thomas sekitar tahun 52 M di Malabar (India).  Kemungkinan Thomas bermigrasi ke Malabar dan meninggal disana. Hal ini terbukti ada umat Kristen di Malabar yang secara keyakinan belum tersentuh oleh perkembangan Kristen modern sampai kedatangan Portugis dibawah Vasco de Gama (BACA DISINI). Dan orang India yang pertama menjadi Muslim berasal dari daerah ini (BACA DISINI). Kelompok lainnya yang diduga kelanjutan dari Nazarenes adalah Nazorean Gunung Carmel.

Al-Quran memberitakan tentang Nasrani (Nashaaraa) diantaranya dalam ayat berikut :
[QS 5:82] Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang nasrani“. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri

[QS 9:30] Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang nasrani berkata: “Al Masih (Yesus) itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?

[QS 2:62] Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang nasrani dan orang-orang Shabiin , siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh , mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Penafsiran Nasrani di Al-Quran bisa bermakna Ganda, yang pertama bisa mengacu ke Nazarenes , yang kedua mengacu ke Nasrani setelah abad 3 M. Karena ayat-ayat Al-Quran itu berkonteks. Sehingga dalam memahami ayat-ayat Al-Quran yang memuat kata Nasrani, kita harus memperhatikan konteksnya, apakah itu mengacu ke Nasrani awal (Nazarenes) atau nasrani kemudian (Nasrani setelah abad 3 M). Misalnya dalam QS 9:30 diatas, kata Nasrani jelas mengacu ke versi setelah abad 3 M, karena setelah abad 3 M lah getol ide Yesus sebagai anak Tuhan/Tuhan.

 

Copyright © review of religions Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger